Selasa, 13 Januari 2009

HASIL EVALUASI PASCA DIKLAT (EPD)
DI BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN APARATUR SUKAMANDI
*) Dede S. Soelaeman

A. LATAR BELAKANG
Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia merupakan unsur yang startegis dalam pembangunan perikanan, lemahnya sumberdaya perikanan akan menambah masalah dalam pembangunan perikanan itu sendiri, oleh karena kegiatan pelatihan merupakan program strategis yang harus dilaksanakan dengan benar guna pengembangan sumberdaya manusia perikanan, termasuk aparatur dan para pelaku pembangunan perikanan secara umum.
Untuk mengukur dan mengetahui manfaat, tingkat penerapan, hambatan dan dampak dari kegiatan suatu pelatihan yang sudah dilaksanakan, maka perlu dilakukan Evaluasi Pasca Diklat (EPD) oleh setiap lembaga pelatihan, dalam hal ini oleh Balai Pendidikan dan Pelatihan Aparatur (BPPA) Sukamandi.

B. TUJUAN DAN KEGUNAAN
Tujuan dan kegunaan pelaksanaan EPD, adalah :
1. Tujuan :
a. untuk mengetahui manfaat pelatihan terhadap kinerja purnawidya,
b. untuk mengetahui pencapaian tujuan pelatihan
c. untuk mengetahui tingkat penerapan hasil pelatihan ditempat tugasnya
d. untuk mengetahui faktor penghambat penerapan hasil pelatihan
e. untuk mengetahui dampak pelatihan terhadap perubahan tanggung jawab dan situasi tempat bekerja purnawidya

2. Kegunaan :
Adapun kegunaan EPD adalah sebagai bahan untuk :
a. memperbaiki kurikulum pelatihan
b. menetapkan pelatihan yang tepat
c. merencanakan dan menerapkan bimbingan lanjutan bagi Purnawidya oleh atasan langsung dan oleh lembaga kepelatihanan

C. PENGERTIAN :
1. Evaluasi adalah alat ukur untuk menentukan relevansi, efektivitas, dan dampak pelatihan dengan tujuan pelatihan guna menyempurnakan pelatihan yang akan dilaksanakan dan atau merencakan pelatihan yang akan datang.
Kegiatan Evaluasi meliputi :
(a). Evaluasi sebelum pelatihan
(b). Evaluasi selama pelatihan
(c). Evaluasi setelah pelatihan
2. Evaluasi Pasca Pelatihan (EPD) adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat manfaat diklat terhadap purnawidya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai aparatur pemerintah sekaligus untuk mempelajari adanya peningkatan kinerja Purnawidya setelah mengikuti pelatihan,
3. Purnawidya adalah peserta pelatihan yang telah mengikuti pelatihan tertentu dan telah kembali bertugas ditempat kerjanya, atau mantan peserta pelatihan
4. Non Purnawidya atau kolega adalah teman atau bawahan Purnawidya dalam lingkungan kerjanya dan bukan mantan peserta pelatihan
5. Atasan Purnawidya adalah seseorang karena jabatan dan keakhliannya telah ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan oleh Pejabat yang berwenang pada lingkup Departemen Kelautan dan Perikanan

D. PRINSIP PELAKSANAAN EPD.
Evaluasi Pasca Pelatihan (EPD) dilaksanakan berdasarkan prinsip, sebagai berikut:
a. Validitas, yaitu kinerja yang akan diukur harus sesuai dengan keterampilan yang dijalani oleh Purnawidya selama mengikuti pelatihan di lembaga kepelatihanan,
b. Objektive, yaitu diukur berdasarkan objektivitas,
c. Reliable, yaitu siapapun, kapanpun, dan dimanapun dilakukan evaluasi akan memberikan hasil penilaian yang sama.
d. Relevan, yaitu terkait dengan perencanaan dan penyelenggaraan pelatihan,
e. Efesien, yaitu dapat dilaksanakan dengan biaya, waktu, dan tenaga yang tersedia,
f. Diagnostik, yaitu mampu menerapkan mengapa, bagaimana, dimana, oleh siapa, dan kenapa tindakan-tindakan selanjutnya.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PELATIHAN (EPD)
A. WAKTU DAN TEMPAT
Kegiatan EPD dilaksanakan pada bulan September s/d Desember 2006, dengan tempat tujuan :
ü Jawa (Jakarta, Sukabumi, Cirebon, Tegal, Semarang, Banyuwangi, Cilacap, Dll)
ü Sumatera (Palembang, Medan, Padang, Jambi, Batam, Aceh, dll)
ü Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, dll)
ü Sulawesi (Bitung, Makasar, dll)
ü Maluku (Ambon, Ternate, dll)
ü Irian Jaya (Sorong, dll)

B. JADWAL PELAKSANAAN
Jadwal pelaksanaan EPD disusun sebagaimana tabel 1 berikut :
Tabel 1 : Jadwal Rencana Pelaksanaan EPD di BDA Sukamandi tahun 2006
No
Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
1
Persiapan :
pembuatan pedoman EPD
penyusunan instrumen EPD
Seminar awal

28 Agustus – 3 September 2006
4 – 5 September 2006
7 September 2006.
2
Pelaksanaan :
pengumpulan data di lapangan
analisis data
Seminar konsep laporan akhir

11 Sept – 25 Nopember 2006.
26 Nopember – 12 Desember 2006.
14 Desember 2006.
3
Laporan :
pengetikan laporan
penggandaan laporan

15 – 19 Desember 2006.
20 Desember 2006.

C. PETUGAS PELAKSANA
Adapun petugas pelaksana EPD BDA Sukamandi tahun 2006, terdiri dari :
ü Kepala Balai
ü Widyaiswara
ü Pejabat Struktural
ü Tenaga Teknis dan Administrasi

D. PEMBIAYAAN
Seluruh biaya yang timbul dari kegiatan EPD BDA Sukamandi dibebankan pada DIPA BDA Sukamandi Tahun 2006.


E. DASAR HUKUM PELAKSANAAAN
Dasar hukum pelaksanaan Evaluasi Pasca Pelatihan (EPD) adalah :
Surat Keputusan Kepala Balai Pelatihan Aparatur Sukamandi, Nomor : Kep.01/BDA/OT.210/I/2006, tanggal 3 januari 2006, tentang struktur organisasi dan uraian tugas pekerjaan pegawai BDA Sukamandi.
Surat Keputusan Kepala Balai tentang Tim Penyusun EPD
DIPA BDA Sukamandi nomor : 0015.0/032 – 01.0/XII/2006, tanggal 31 Desember 2005

F. LANGKAH PELAKSANAAN EPD
1. Orientasi Lokasi Evaluasi
Lokasi EPD dipilih berdasarkan daerah/wilayah kerja Purnawidya. Dalam orientasi ini diperoleh data dan informasi dari hasil penyelenggaraan pelatihan di Balai Pelatihan Aparatur Sukamandi selama tahun 2006. Adapun lokasi EPD adalah mencakup seluruh wilayah Indonesia.
2. Penyusunan Instrumen Evaluasi
Instrumen adalah alat untuk mendapatkan data dan informasi yang diinginkan sesuai dengan tujuan evaluasi. Metode yang digunakan dalam EPD ini didasarkan pada persepsi dan performansi purnawidya. Instrumen dibuat dalam bentuk (Kwesioner) pertanyan-pertanyaan sesuai dengan golongan responden, yaitu :
a) Kwesioner bagi purnawidya
b) Kwesioner bagi atasan purnawidya
c) Kwesioner bagi Non purnawidya/kolega
3. Penetapan Sampel.
Sampel responden ditetapkan berdasarkan acak stratifikasi (stratification random sampling) yaitu 30% dari jumlah peserta pelatihan dengan ukuran lamanya waktu 6 (enam) bulan setelah pelatihan selesai. Adapun golongan responden dibagi atas :
a) Status responden purnawidya, yaitu mantan peserta pelatihan atau purnawidya.
b) Status responden bukan purnawidya, yaitu responden yang bukan mantan peserta pelatihan atau non purnawidya yang terdiri dari supervisor (atasan langsung purnawidya) dan non purnawidya atau kolega atau bawahan purnawidya.
Maksud dari penggolongan status responden ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi yang saling menguji kebenaran pernyataan atau jawaban serta untuk meminimalkan terjadinya bias karena faktor subyektivitas.
Adapun jumlah responden ditetapkan berdasarkan perkiraan atau asumsi bahwa ketepatan pengukuran sangat relatif dengan tingkat kesalahan sampling kecil yaitu 30 % dari jumlah mantan peserta pelatihan.
Untuk jumlah masing masing responden untuk tiap jenis pelatihan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3 : Jumlah responden untuk masing-masing jenis pelatihan

No

Jenis Pelatihan
Golongan Responden
Jumlah Responden
Purnawidya
Atasan Purnawidya
Non Purnawidya
1
Pelatihan Pim IV
10
10
10
30
2
Pengembangan profesionalisme
10
10
10
30
3
TOC
10
10
10
30
4
Bendaharawan Pengeluaran
10
10
10
30
5
Pengelolaan APBN
10
10
10
30
6
Dasar Komputer
10
10
10
30
7
Renstra
10
10
10
30
8
Analisis Standar Kompetensi
10
10
10
30

4. Pengumpulan data.
Untuk memperoleh data yang diperlukan sesuai dengan tujuan EPD, maka pengumpulan data dilakukan dengan cara :
a) melakukan pengamatan ditempat kerja purnawidya
b) melakukan wawancara dengan purnawidya, atasan langsung purnawidya dan kolega/teman purnawidya.
5. Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan secara deskriptif yaitu penggabungan prosentase dengan kegiatan sebagai berikut :
a) Tabulasi data
Tabulasi data adalah kegiatan mengelompokan data berdasarkan jenis responden dan memasukan pernyataan atau jawaban responden kedalam tabel yang berupa cek lis untuk setiap item kwesioner, kemudian hasilnya dihubungkan pada setiap kolom pernyataan atau jawaban yang ada.
Untuk melakukan analisa data sesuai dengan tujuan EPD, maka dibuat tabel berdasar pernyataan atau jawaban responden yang terdiri dari :
1) Tabel pendapat umum responden tentang manfaat pelatihan
2) Tabel tingkat penerapan hasil pelatihan
3) Tabel faktor penyebab dan hambatan dalam penerapan hasil pelatihan
4) Tabel dampak pelatihan terhadap perubahan tanggung jawab dan situasi tempat bekerja purnawidya.
b) Menghitung prosentase
Untuk mengetahui dan mengukur tingkat penerapan hasil pelatihan purnawidya dalam hubungannya dengan kondisi dimana purnawidya bekerja, maka pengolahan data dan informasi dilakukan dengan cara menghitung prosentase dari setiap kelompok pernyataan atau jawaban responden. Adapun cara menghitung prosentase setiap kelompok pernyataan atau jawaban responden dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Jumlah jawaban responden pada tiap kolom
X 100 %
Jumlah responden yang memberikan jawaban


Sedangkan untuk menghitung prosentase unsur hambatan atau kendala yang mempengaruhi tingkat penerapan hasil pelatihan dugunakan rumus sebagai berikut :

Jumlah jawaban responden pada tiap kolom
X 100 %
Jumlah responden total

Untuk memperoleh gambaran umum tentang hasil EPD, maka dihitung rata-rata prosentase dengan cara menjumlahkan prosentase yang ada pada setiap kolom, kemudian dibagi dengan jumlah jenis pengetahuan, keterampilan, sikap (PKS) dengan uraian tugas purnawidya.

c) Penarikan kesimpulan
Jika nilai rata-rata prosentase tingkat penerapan tinggi atau kesenjangan performansi rendah, maka program pelatihan dan situasi instansi tempat purnawidya bekerja sudah baik,
Jika nilai rata-rata prosentase tingkat penerapan rendah atau kesenjangan performansi tinggi sebagai faktor kemampuan dan sikap yang besar atau dominan, maka berarti program pelatihan belum mencapai sasaran.,
Jika nilai rata-rata prosentase tingkat penerapan rendah dan kesenjangan performansi tinggi sebagai akibat dari faktor situasional yang lebih besar atau dominan, maka berarti situasi instansi tempat bekerja purnawidya yang belum baik.

















III. HASIL ANALISA DATA
Hasil analisa data pelaksanaan evaluasi pasca pelatihan terhadap purnawidya dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui manfaat, tingkat penerapan, hambatan dan dampak pelatihan terhadap kinerja purnawidya.
Adapun hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi pasca pelatihan terhadap Purnawidya Pelatihan Pim IV, Renstra, Bendaharawan Pengeluaran, Pengelolaan APBN, Pengembangan Profesionalisme, Dasar Komputer, TOC dan Analisa Standar Kompetensi Kerja adalah sebagai berikut :

A. Manfaat Pelatihan
Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan suatu pelaksanaan pelatihan adalah dengan mengetahui sampai sejauh mana manfaat pelatihan tersebut telah tercapai. Adapun manfaat pelatihan dilihat berdasarkan 5 (lima) indikator, yaitu : 1) meningkatkan pengetahuan; 2) meningkatkan hasil kerja; 3) memperbesar kesempatan naik pangkat; 4) memperbesar kepercayaan atasan dan kolega; 5) meningkatkan kepercayaan diri dalam melaksanakan pekerjaannya.
Berdasarkan data dan informasi yang didapat dan hasilnya menunjukan bahwa dari 8 (delapan) pelatihan yang telah dilaksanakan oleh Balai Pelatihan Aparatur Sukamandi selama tahun 2006, dapat dilihat pada data dan informasi dibawah ini :

1. Pelatihan Pim IV :
a. Berdasarkan data dan informasi dapat disimpulkan bahwa Pelatihan bermanfaat menurut purnawidya 73,33 %, Atasan Purnawidya 68,33 % dan menurut Non Purnawidya 82,86 %. Purmawidya merasakan bahwa setelah mengikuti Pelatihan hasil kerjanya meningkat 91,67 %, sedang menurut Atasan Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuannya meningkat 83,33 %, sedangkan menurut Non Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuannya meningkat 92,86 %.
b. Penerapan hasil mengikuti pelatihan, menurut Purnawidya 73,95 5, menurut Atasan purnawidya 76,96 % dan menurut Non Purnawidya 86,13 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata rata hasil pelatihan diterapkan pada tugas dan tanggung jawabnya sebesar 78,95 %
c. Ada hambatan yang dirasakan oleh purnawidya pada penerapan hasil pelatihan menurut Purnawidya adalah 47,47 % dan yang mengatakan tidak ada hambatan 67,42 %. Faktor hambatan pada umumnya adalah pada sarana 11,87 %, biaya 14,90 % dan berkaitan dengan tata hubungan kerja adalah 14,39 %.
d. a). Adapun dampak terhadap perubahan tanggung jawab purnawidya adalah dalam melaksanakan pekerjaanya mampu melakukan koordinasi dengan unit yang lain 94,84 % dan melakukan penyesesuaian program kerja dengan bagian yang lain yaitu 92,86 %.
b). Adapun dampak perubahan terhadap situasi lingkungan kerja purnawidya menurut data dan informasi disimpulkan sebesar 97,22 % menyatakan telah membuat laporan hasil mengikuti pelatihan dan 92,28 % menyatakan menerapkan hasil mengikuti pelatihan dalam melaksanakan pekerjaannya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 3.

2. Pelatihan RENSTRA
a. Berdasarkan data dan informasi dapat disimpulkan bahwa Pelatihan bermanfaat menurut purnawidya 70,59 %, Atasan Purnawidya 76,47 % dan menurut Non Purnawidya 82,67 %. Purmawidya merasakan bahwa setelah mengikuti Pelatihan hasil kerjanya meningkat 82,35 %, sedang menurut Atasan Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuan, hasil kerja dan kepercayaan diri Purnawidya meningkat 82,35 %, sedangkan menurut Non Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan hasil kerja, kepercayaan dan kepercayaan diri meningkat 93,33 %. Sehingga dapat disimpulkan rata rata 76,58 % meningkat.
b. Penerapan hasil mengikuti pelatihan, menurut Purnawidya 85,07 %, menurut Atasan purnawidya 85,97 % dan menurut Non Purnawidya 86,26 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata rata hasil pelatihan diterapkan pada tugas dan tanggung jawabnya sebesar 85,77 %
c. Ada hambatan yang dirasakan oleh purnawidya pada penerapan hasil pelatihan menurut Purnawidya adalah 33,20 % dan yang mengatakan tidak ada hambatan 66,80 %. Faktor hambatan pada umumnya adalah pada sarana 82,35 %, biaya 66,27 % dan berkaitan dengan iklim setempat adalah 45,49 %.
d. a). Adapun dampak terhadap perubahan tanggung jawab purnawidya adalah dalam melaksanakan pekerjaanya mampu melakukan penyesuaian program kerja dengan lembaga terkait 91,90 % dan melakukan kordinasi serta bersama sama membuat program kerja baru yaitu 77,65 %.
b). Adapun dampak perubahan terhadap situasi lingkungan kerja purnawidya menurut data dan informasi disimpulkan sebesar 82,09 % menyatakan telah membuat laporan hasil mengikuti pelatihan dan 91,90 % menyatakan menerapkan hasil mengikuti pelatihan dalam melaksanakan pekerjaannya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 4.

3. Pelatihan Bendaharawan Pengeluaran
a. Berdasarkan data dan informasi dapat disimpulkan bahwa Pelatihan banyak bermanfaat menurut purnawidya 70,59 %, Atasan Purnawidya 80,00 % dan menurut Non Purnawidya 71,25 %. Purmawidya merasakan bahwa setelah mengikuti Pelatihan hasil kerjanya meningkat 94,12 %, sedang menurut Atasan Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuannya, hasil kerja dan kepercayaan diri meningkat 93,33 %, sedangkan menurut Non Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuannya dan kepercayaan diri meningkat 81,25 %.
b. Penerapan hasil mengikuti pelatihan, menurut Purnawidya 97,06 %, menurut Atasan purnawidya 97,14 % dan menurut Non Purnawidya 94,64 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata rata hasil pelatihan diterapkan pada tugas dan tanggung jawabnya sebesar 96,28 %
c. Ada hambatan yang dirasakan oleh purnawidya pada penerapan hasil pelatihan menurut Purnawidya adalah 4,39 % dan yang mengatakan tidak ada hambatan 65,61 %. Faktor hambatan pada umumnya adalah pada sarana 10,45 %, biaya 8,23 % dan berkaitan dengan tingkat pendidikan adalah 21,56 %.
d. a). Adapun dampak terhadap perubahan tanggung jawab purnawidya adalah dalam melaksanakan pekerjaanya lebih mampu melakukan koordinasi dengan unit yang lain 97,92 % dan melakukan penyesesuaian program kerja dengan bagian yang lain yaitu 95,69 %.
b). Adapun dampak perubahan terhadap situasi lingkungan kerja purnawidya menurut data dan informasi disimpulkan sebesar 97,92 % menyatakan telah membuat laporan hasil mengikuti pelatihan dan 93,73 % menyatakan menerapkan hasil mengikuti pelatihan dalam melaksanakan pekerjaannya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 5.

4. Pelatihan Pengelolaan APBN
a. Berdasarkan data dan informasi dapat disimpulkan bahwa Pelatihan bermanfaat menurut purnawidya 73,33 %, Atasan Purnawidya 67,27 % dan menurut Non Purnawidya 76,36 %. Purmawidya merasakan bahwa setelah mengikuti Pelatihan pengetahuannya meningkat 91,67 %, sedang menurut Atasan Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuannya meningkat 81,82 %, sedangkan menurut Non Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuannya meningkat 990,91 %.
b. Penerapan hasil mengikuti pelatihan, menurut Purnawidya 73,81 %, menurut Atasan purnawidya 74,03 % dan menurut Non Purnawidya 83,11 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata rata hasil pelatihan diterapkan pada tugas dan tanggung jawabnya sebesar 76,98 %
c. Ada hambatan yang dirasakan oleh purnawidya pada penerapan hasil pelatihan menurut Purnawidya adalah 85,35 % dan yang mengatakan tidak ada hambatan 14,65 %. Faktor hambatan pada umumnya adalah pada sarana 82,07 %, biaya dan tingkat pendidikan sebanyak 82,32 %.
d. a). Adapun dampak terhadap perubahan tanggung jawab purnawidya adalah dalam melaksanakan pekerjaanya mampu melakukan koordinasi dengan unit yang lain semakin meningkat yaitu 91,41 % dan melakukan kerjasama dalam menyusun program kerja yaitu 85,10 dan sebagian besar setelah mengikuti pelatihan tidak ada perubahan apa-apa 94,19 %.
b). Adapun dampak perubahan terhadap situasi lingkungan kerja purnawidya menurut data dan informasi disimpulkan sebesar 85,10 % menyatakan membuat laporan setelah mengikuti pelatihan dan 61,36 % menyatakan hasil pelatihan dalam penerapannya harus menunggu instruksi pimpinan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 6.

5. Pelatihan Pengembangan Profesionalisme
a. Berdasarkan data dan informasi dapat disimpulkan bahwa Pelatihan banyak bermanfaat menurut purnawidya 76,47 %, Atasan Purnawidya 81,25 % dan menurut Non Purnawidya 76,25 %. Purmawidya merasakan bahwa setelah mengikuti Pelatihan pengetahuan dan hasil kerjanya meningkat 94,12 %, sedang menurut Atasan Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuan, hasil kerja dan kepercayaan dirinya meningkat 93,75 %, sedangkan menurut Non Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuan dan tingkat kepercayaan teman-temannya meningkat 87,50 %.
b. Penerapan hasil mengikuti pelatihan, menurut Purnawidya 85,66 %, menurut Atasan purnawidya 95,70 % dan menurut Non Purnawidya 96,09 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata rata hasil pelatihan diterapkan pada tugas dan tanggung jawabnya sebesar 92,49 %
c. Ada hambatan yang dirasakan oleh purnawidya pada penerapan hasil pelatihan menurut Purnawidya adalah 10,29 % dan yang mengatakan tidak ada hambatan 89,71 %. Faktor hambatan pada umumnya adalah pada sarana 12,41 %, biaya dan tingkat pendidikan sebanyak 33,01 % dan tingkat pendidikan 23,37 %.
d. a). Adapun dampak terhadap perubahan tanggung jawab purnawidya adalah dalam melaksanakan pekerjaanya mampu melakukan koordinasi dengan unit yang lain semakin meningkat yaitu 89,58 % dan melakukan penyesuaian program kerja sendiri yaitu 93,75 %
b). Adapun dampak perubahan terhadap situasi lingkungan kerja purnawidya menurut data dan informasi disimpulkan sebesar 95,83 % menyatakan membuat laporan setelah mengikuti pelatihan dan 93,87 % menyatakan materi hasil mengikuti pelatihan perlu dibicarakan dengan teman-temannya sebelum diterapkan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 7.

6. Pelatihan dasar Komputer
a. Berdasarkan data dan informasi dapat disimpulkan bahwa Pelatihan bermanfaat menurut purnawidya 76,00 %, Atasan Purnawidya 72,00 % dan menurut Non Purnawidya 78.82 %. Purmawidya merasakan bahwa setelah mengikuti Pelatihan kepercayaan teman meningkat 94,12 % dan pengetahuan meningkat 93,33 %, sedang menurut Atasan Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan pengetahuan dan kepercayaan dirinya meningkat 86,67 %, sedangkan menurut Non Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan tingkat kepercayaan dirinya meningkat 94,12 %.
b. Penerapan hasil mengikuti pelatihan, menurut Purnawidya 79,33 %, menurut Atasan purnawidya 76,00 % dan menurut Non Purnawidya 97,86 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata rata hasil pelatihan diterapkan pada tugas dan tanggung jawabnya sebesar 84,41 %
c. Ada hambatan yang dirasakan oleh purnawidya pada penerapan hasil pelatihan menurut Purnawidya adalah 93,59 % dan yang mengatakan tidak ada hambatan 6,41 %. Faktor hambatan pada umumnya adalah pada sarana 89,41 %, biaya 84,71 dan pada sarana transportasi/komunikasi 84,71.
d. a). Adapun dampak terhadap perubahan tanggung jawab purnawidya adalah dalam melaksanakan penyesesuaian program kerjanya sendiri 89,41 % dan mampu melakukan koordinasi dengan unit yang lain semakin meningkat yaitu 87,45 %
b). Adapun dampak perubahan terhadap situasi lingkungan kerja purnawidya menurut data dan informasi dapat disimpulkan sebesar 91,37 % menyatakan membuat laporan setelah mengikuti pelatihan dan 83,27 % menyatakan materi hasil mengikuti pelatihan dapat diterapkan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 8.

7. Pelatihan TOC
a. Berdasarkan data dan informasi dapat disimpulkan bahwa Pelatihan banyak bermanfaat menurut purnawidya 74,55 %, Atasan Purnawidya 78,95 % dan menurut Non Purnawidya 70,00 %. Purmawidya merasakan bahwa setelah mengikuti Pelatihan pengetahuannya meningkat 90,91 %, hasil kerjanya dan kepercayaan dirinya meningkat 86,36 %, sedang menurut Atasan Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan kepercayaan dirinya meningkat 94,74 % dan pengetahuannya meningkat 89,47 %, sedangkan menurut Non Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan tingkat pengetahuannya meningkat 80,00 %.
b. Penerapan hasil mengikuti pelatihan, menurut Purnawidya 95,13 sudah diterapkan, menurut Atasan purnawidya 93,98 % sudah diterapkan dan menurut Non Purnawidya 95,71 % sudah diterapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata rata hasil pelatihan yang sudah diterapkan pada pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebesar 94,94 %
c. Ada hambatan yang dirasakan oleh purnawidya pada penerapan hasil pelatihan menurut Purnawidya adalah 8,12 % dan yang mengatakan tidak ada hambatan 91,88 %. Faktor hambatan pada umumnya adalah pada sarana 26,39 %, biaya 53,87 dan pada tingkat pendidikan 45,92 %
d. a). Adapun dampak terhadap perubahan tanggung jawab purnawidya adalah dalam melakukan koordinasi dengan unit kerja lain meningkat sebesar 96,73 % dan dapat membuat penyesuaian program kerja sendiri 90,28 %.
b). Adapun dampak perubahan terhadap situasi lingkungan kerja purnawidya menurut data dan informasi dapat disimpulkan sebesar 98,33 % menyatakan membuat laporan setelah mengikuti pelatihan dan 96,73 % menyatakan materi hasil mengikuti pelatihan dapat diterapkan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 9.

8. Pelatihan Analisis Standar Kompetensi Kerja
a. Berdasarkan data dan informasi dapat disimpulkan bahwa Pelatihan banyak bermanfaat menurut purnawidya 76,92 %, Atasan Purnawidya 68,57 % dan menurut Non Purnawidya 72,86 %. Purmawidya merasakan bahwa setelah mengikuti Pelatihan pengetahuan dan hasil kerjanya meningkat 92,31 %, sedang menurut Atasan Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan kepercayaan teman-temannya dan dirinya meningkat 92,86 %, sedangkan menurut Non Purnawidya, setelah mengikuti pelatihan tingkat pengetahuan dan kepercayaan teman-temannya meningkat 85,71 %.
b. Penerapan hasil mengikuti pelatihan, menurut Purnawidya 95,27 % sudah diterapkan, menurut Atasan purnawidya 96,15 % sudah diterapkan dan menurut Non Purnawidya 95,05 % sudah diterapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata rata hasil pelatihan yang sudah diterapkan pada pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebesar 95,49 %
c. Ada hambatan yang dirasakan oleh purnawidya pada penerapan hasil pelatihan menurut Purnawidya adalah 67,28 % dan yang mengatakan tidak ada hambatan 14,46 %. Faktor hambatan pada umumnya adalah pada sarana 30,22 %, biaya 39,19 dan pada tingkat pendidikan 44,51 %
d. a). Adapun dampak terhadap perubahan tanggung jawab purnawidya adalah dalam melakukan penyesuaian program kerja sendiri 92,67 dan melakukan koordinasi dengan unit kerja lain serta pembuatan program kerja baru meningkat sebesar 87,91.
b). Adapun dampak perubahan terhadap situasi lingkungan kerja purnawidya menurut data dan informasi dapat disimpulkan sebesar 95,05 % menyatakan sudah membuat laporan setelah mengikuti pelatihan dan 90,29 % menyatakan telah menyampaikan subjek pelatihan yang bermanfaat dengan pimpinannya berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan pekerjaannya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 10.

Berdasarkan data dan informasi diatas yang diperoleh, menggambarkan bahwa manfaat pelatihan yang telah diikuti dan dirasakan oleh purnawidya, adalah sebagai berikut :
a. meningkatkan hasil kerja purnawidya = 90,43 %
b. meningkatkan kepercayaan diri = 87,32 %
b. meningkatkan pengetahuan purnawidya = 78,88 %
c memperbesar kepercayaan atasan/teman = 59,97 %
e. memperbesar kesempatan naik pangkat = 24,73 %
Dari hasil analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan yang dilaksanakan oleh Balai Pelatihan Aparatur Sukamandi selama tahun 2006 banyak memberikan manfaat kepada purnawidya.

B. Tingkat Penerapan
Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat penerapan hasil mengikuti pelatihan adalah sampai sejauh mana tingkat kompetensi yang dimiliki oleh purnawidya. Tingkat kinerja yang telah dicapai oleh purnawidya setelah mengikuti pelatihan sangat menentukan efektivitas dari pelaksanaan pelatihan.
Dalam EPD terhadap 8 (delapan) pelatihan seperti tersebut diatas dan untuk mengetahui sampai sejauh mana efektivitas pelaksanaan pelatihan dapat diukur dari sejauh mana tingkat penerapan hasil pelatihan yang dilakukan oleh masing–masing purnawidya ditempat tugasnya.
Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh secara umum memberikan gambaran bahwa yang sudah menerapkan hasil pelatihan = 85,24 % dan yang belum menerapkan sebanyak 14,76 %, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat penerapan hasil pelatihan oleh purnawidya cukup tinggi walaupun masih ada faktor lain diluar kemampuan purnawidya yang mempengaruhi penerapan ditempat kerjanya.

C. Hambatan Dalam Penerapan Hasil Pelatihan
Penerapan hasil pelatihan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal pada umumnya berhubungan dengan kompetensi purnawidya (pengetahuan, keterampilan dan sikap), sedang faktor eksternal yang merupakan faktor penghambat yang berada diluar kemampuan purnawidya , antara lain institusi/kelembagaan, lingkungan kerja, dll.
Dalam EPD terhadap 8 (delapan) pelatihan diperoleh pernyataan bahwa dalam menerapkan hasil pelatihan, purnawidya masih mengalami hambatan. Terlihat dengan jelas bahwa yang belum diterapkan adalah 14,76 % hal ini terjadi karena adanya faktor hambatan yang dialami purnawidya, berdasarkan tabel menjelaskan bahwa faktor hambatan yang dominan adalah faktor sarana yang kurang memadai yaitu 82,80 %, biaya 65,03 %, iklim 38,68 %, komunikasi dan atau transportasi 25,84 % dan faktor tingkat pendidikan purnawidya 11,05 %.

D. Dampak Pelatihan
Dampak terhadap perubahan situasi dan tanggung jawab purnawidya.
Pelatihan pada dasarnya adalah untuk menigkatkan kompetensi kerja purnawidya dan agar lebih mampu melaksanakan tugasnya dengan evektif dan efesien sehingga akan mempengaruhi situasi lingkungan kerja dan tanggung jawab purnawidya dalam melaksanakan tugasnya.
Berdasarkan hasil analisa yang mempengaruhi perubahan situasi lingkungan purnawidya dalam melaksanakan tugasnya adalah a) purnawidya telah membuat sendiri program kerja baru dalam menerapkan hasil pelatihan 71,21 % , b) purnawidya bersama atasan dan rekan kerjanya membuat program kerja baru 83,32 % , c) program kerja baru telah dibuat oleh atasan 79,58 % , d) sebagian purnawidya meningkat mendapat kepercayaan dari atasan ataupun rekan sekerjanya 53,81 %.


Dampak terhadap tanggung jawab purnawidya dalam melaksanakan tugas
Purnawidya setelah mengikuti pelatihan selayaknya sudah meningkat pengetahuan, keterampilan dan sikapnya dalam melaksanakan tugas pekerjaanya, dengan telah meningkat kemampuannya tersebut diharapkan dapat meningkat pula dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, hal ini dapat dilihat dari hasil analisa seperti berikut ini, a) purnawidya telah memberikan laporan tertulis kepada atasan 95,37 %, b) purnawidya memperbincangkan subyek pelatihan dengan atasannya 92,36 %, c) purnawidya telah memperbincangkan hasil pelatihan dengan rekan/koleganya 89,66 % dan purnawidya segera menerapkan hasil pelatihan dalam pekerjaanya 85,25 %.
























IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil dari kegiatan Evaluasi Pasca Pelatihan di Balai Pelatihan Aparatur Sukamandi pada tahun 2006 terhadap 8 (delapan) pelatihan yang sudah dilaksanakan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
seluruh pelatihan yang dilaksanakan oleh Balai Pelatihan Aparatur Sukamandi selama tahun 2006 telah memberikan manfaat yang nyata bagi purnawidya, yaitu dalam meningkatkan hasil kerja 90,43 %, meningkatkan kepercayaan diri 87,32 %, meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap 78,88 %, memperbesar kepercayaan atasan dan teman sekerja 59,97 % dan memperbesar kesempatan naik pangkat 24,73 %. hasil pelatihan sebagian besar sudah diterapkan oleh purnawidya 85,24 % dan yang belum diterapkan sebanyak 14,76 %, hal ini terjadi karena disebabkan adanya faktor penghambat yang mempengaruhi purnawidya yaitu keterbatasan diluar kemampuan purnawidya.
faktor penghambat yang mempengaruhi penerapan hasil pelatihan adalah sarana 82,80 %, biaya 65,03 %, iklim 38,68 %, transportasi/komunikasi 25,84 % dan faktor tingkat pendidikan 11,05 %. dampak terhadap perubahan situasi lingkungan kerja, telah mampu membuat program kerja sendiri 71,21 %, mampu membuat program kerja bersama atasan dan rekan kerja 83,32 %, purnawidya mendapat kepercayaan dari atasan dan temannya cukup memadai yaitu 53,81 % dan yang belum mampu membuat program kerja untuk menerapkan hasil pelatihan adalah 29,79 %. dampak terhadap tanggung jawab purnawidya dalam melaksanakan tugas pekerjaanya 95,37 % purnawidya telah membuat laporan tertulis kepada atasan, memperbincangkan dengan rekan/koleganya dan yang menerepkan langsung hasil pelatihan adalah 92,36 %.

B. Saran
Penentuan tempat atau lokasi EPD yang akan dikunjungi atau dipilih sebaiknya ditentukan berdasarkan sedikit atau banyaknya jumlah responden atau purnawidya yang berada di daerah tersebut, selanjutnya ditentukan siapa petugasnya dan jumlah petugasnya.
Untuk memperoleh hasil yang optimal sebaiknya ada penggabungan wilayah yang berdekatan dengan waktu kunjungan yang memadai.
Instrumen EPD perlu disempurnakan dan disosialisasikan yang selanjutnya dibakukan sebagai pedoman pelaksanaan Evaluasi Pasca Pelatihan di Balai Pelatihan Aparatur Sukamandi.

Tidak ada komentar: